Arba'in al-Ajurri : Hadits Ketiga

al-Arba'īn Ḥadītsan
Hadits Ketiga
الأربعون حديثا للآجري
الحديث الثالث

Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Ja‘far Ahmad bin Yahya al-Hulwāni, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Abdillah bin Yunus, telah menceritakan kepada kami Zuhair, yaitu Ibnu Mu‘āwiyah, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa‘id, dari Muhammad bin Ibrahim at-Taimi, ia berkata: Aku mendengar ‘Alqamah bin Waqqāsh berkata: Aku mendengar ‘Umar bin al-Khaththāb radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niat, dan setiap orang hanya memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan. Maka, barang siapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Namun, barang siapa hijrahnya demi dunia yang ingin ia peroleh atau demi seorang wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya adalah kepada apa yang menjadi tujuan hijrahnya itu.”1

Muhammad bin al-Husain berkata: Ketahuilah—semoga Allah merahmati kami dan engkau—bahwa hadits ini merupakan salah satu pokok agama. Tidak boleh bagi seorang muslim pun menunaikan suatu kewajiban yang Allah ‘Azza wa Jalla wajibkan kepadanya, dan tidak pula mendekatkan diri kepada-Nya dengan suatu amalan sunnah, kecuali dengan niat yang ikhlas dan benar; tidak terdapat riya’ ataupun mencari pujian manusia di dalamnya. Ia tidak menghendaki dengannya selain Allah ‘Azza wa Jalla dan tidak menyekutukan selain-Nya bersama Allah ‘Azza wa Jalla dalam amalan tersebut. Sebab, Allah Ta‘ālā tidak menerima amal melainkan amal yang diikhlaskan bagi-Nya dan yang dimaksudkan untuk mengharap wajah-Nya. Para ulama tidak berselisih dalam hal ini.

Jika engkau bertanya, “Apakah makna hadits ini dalam kaitannya dengan hijrah?” Maka dikatakan kepadamu: Ketahuilah bahwa ketika Nabi ﷺ berhijrah dari Makkah ke Madinah, beliau mewajibkan seluruh kaum muslimin yang berada di Makkah untuk berhijrah, meninggalkan keluarga, kabilah, dan tempat tinggal mereka, dengan hanya mengharap wajah Allah ‘Azza wa Jalla, bukan selain-Nya. Maka manusia berhijrah dengan sifat seperti ini. Allah ‘Azza wa Jalla pun memuji kaum Muhajirin dalam Kitab-Nya di banyak tempat, mencela orang yang tertinggal dari hijrah tanpa uzur, dan memberi uzur kepada orang yang tertinggal karena suatu uzur apabila ia tidak mampu berhijrah.

Lalu ada seorang laki-laki yang keluar dari Makkah secara lahiriah sebagai orang yang berhijrah. Ia turut menempuh perjalanan dan bepergian bersama orang-orang, tetapi yang ia kehendaki bukanlah Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya ﷺ. Yang ia kehendaki hanyalah menikahi seorang wanita dari kalangan wanita Muhajirin yang telah berhijrah sebelumnya, yang ingin ia nikahi, serta mendapatkan dunia. Maka ia tidak dihitung sebagai bagian dari kaum Muhajirin, walaupun ia telah menempuh perjalanan bersama orang-orang, bepergian, dan keluar dari negerinya. Sebab, niatnya berbeda dengan niat mereka. Mereka menghendaki Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya ﷺ, sedangkan ia menghendaki menikahi Ummu Qais. Karena itu, ia disebut Muhājir Ummu Qais. Maka pahamilah hal ini.2

قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ أَحْمَدُ بْنُ يَحْيَى الْحُلْوَانِيُّ، حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يُونُسَ، حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ يَعْنِي ابْنَ مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ قَالَ: سَمِعْتُ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ يَقُولُ: سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ، وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.1

قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ: اعْلَمْ رَحِمَنَا اللَّهُ وَإِيَّاكَ أَنَّ هَذَا الْحَدِيثَ أَصْلٌ مِنْ أُصُولِ الدِّينِ، لَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ أَنْ يُؤَدِّيَ مَا افْتَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ مِنْ فَرِيضَةٍ وَلَا يَتَقَرَّبُ إِلَيْهِ بِنَافِلَةٍ إِلَّا بِنِيَّةٍ خَالِصَةٍ صَادِقَةٍ لَا رِيَاءَ فِيهَا وَلَا سُمْعَةَ، وَلَا يُرِيدُ بِهَا إِلَّا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ، وَلَا يُشْرِكُ فِيهَا مَعَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ غَيْرَهُ، لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا أُخْلِصَ لَهُ وَأُرِيدَ بِهِ وَجْهُهُ، لَا يَخْتَلِفُ فِي هَذَا الْعُلَمَاءُ.

فَإِنْ قُلْتَ: فَأَيُّ شَيْءٍ مَعْنَى هَذَا الْحَدِيثِ فِي الْهِجْرَةِ؟ قِيلَ لَكَ: اعْلَمْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا هَاجَرَ مِنْ مَكَّةَ إِلَى الْمَدِينَةِ أَوْجَبَ عَلَى جَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ مِمَّنْ هُوَ بِمَكَّةَ أَنْ يُهَاجِرُوا وَيَدَعُوا أَهَالِيَهُمْ وَعَشَائِرَهُمْ وَدِيَارَهُمْ، يُرِيدُونَ بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، لَا غَيْرَهُ، فَكَانَ النَّاسُ يُهَاجِرُونَ عَلَى هَذَا النَّعْتِ، فَأَثْنَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى الْمُهَاجِرِينَ فِي كِتَابِهِ فِي غَيْرِ مَوْضِعٍ، وَذَمَّ مَنْ تَخَلَّفَ عَنِ الْهِجْرَةِ بِغَيْرِ عُذْرٍ، وَعَذَرَ مَنْ تَخَلَّفَ بِعُذْرٍ إِذَا كَانَ لَا يَسْتَطِيعُ، فَخَرَجَ رَجُلٌ مِنْ مَكَّةَ مُهَاجِرًا فِي الظَّاهِرِ وَقَدْ شَمِلَهُ الطَّرِيقُ مَعَ النَّاسِ وَالسَّفَرُ، وَلَمْ يَكُنْ مُرَادُهُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَإِنَّمَا كَانَ مُرَادُهُ تَزَوُّجَ امْرَأَةٍ مِنَ الْمُهَاجِرَاتِ قَبْلَهُ أَرَادَ تَزَوُّجَهَا وَأَرَادَ الدُّنْيَا فَلَمْ يُعَدَّ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ، وَإِنْ كَانَ الطَّرِيقُ قَدْ شَمِلَهُ مَعَ النَّاسِ وَالسَّفَرُ، وَخَرَجَ مِنْ وَطَنِهِ إِلَّا أَنَّ نِيَّتَهُ مُفَارِقَةٌ لِنِيَّاتِهِمْ، هُمْ أَرَادُوا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ أَرَادَ تَزَوُّجَ أُمَّ قَيْسٍ، فَكَانَ يُسَمَّى مُهَاجِرَ أُمِّ قَيْسٍ فَاعْلَمْ ذَلِكَ.2

1. Diriwayatkan pula oleh al-Bukhārī dan Muslim dan selain keduanya

2. Ibnu Hajar berkata dalam al-Fatḥ (1: 10): "Kisah Muhājir Umm Qais diriwayatkan oleh Sa‘īd bin Manṣūr, ia berkata: Abū Mu‘āwiyah mengabarkan kepada kami dari al-A‘masy, dari Syaqīq, dari ‘Abdullāh—yaitu Ibnu Mas‘ūd—ia berkata: Barangsiapa berhijrah karena menginginkan sesuatu, maka ia hanya mendapatkan apa yang diinginkannya itu. Ada seorang laki-laki yang berhijrah untuk menikahi seorang wanita yang dipanggil Umm Qais, maka ia dijuluki Muhājir Umm Qais. Diriwayatkan pula oleh ath-Thabarānī dari jalur lain dari al-A‘masy dengan lafazh: Ada seorang laki-laki di antara kami yang meminang seorang wanita bernama Umm Qais, tetapi wanita itu menolak menikah dengannya hingga ia berhijrah. Maka laki-laki itu pun berhijrah lalu menikahinya, sehingga kami menamainya Muhājir Umm Qais. Dan sanad ini shahih sesuai syarat ash-Syaikhān (al-Bukhārī dan Muslim), tetapi di dalamnya tidak disebutkan bahwa hadits tentang niat/amal disampaikan karena sebab tersebut, dan saya tidak melihat pada satu pun jalur riwayat yang menunjukkan penegasan akan hal itu." Selesai. Saya katakan: Hadits ini telah dijelaskan oleh al-Ḥāfiẓ al-‘Allāmah Ibnu Rajab al-Ḥanbalī dalam kitabnya yang sangat berharga Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juga memiliki risalah khusus tersendiri dalam menjelaskannya yang telah dicetak.

1. وَأَخْرَجَهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ وَغَيْرُهُمَا

2. قَالَ ابْنُ حَجَرٍ فِي «الْفَتْحِ» (١ : ١٠): «قِصَّةُ مُهَاجِرِ أُمِّ قَيْسٍ رَوَاهَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ قَالَ: أَخْبَرَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنِ الْأَعْمَشِ عَنْ شَقِيقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ - هُوَ ابْنُ مَسْعُودٍ - قَالَ: مَنْ هَاجَرَ يَبْتَغِي شَيْئًا فَإِنَّمَا لَهُ ذَلِكَ، هَاجَرَ رَجُلٌ لِيَتَزَوَّجَ امْرَأَةً يُقَالُ لَهَا أُمُّ قَيْسٍ، فَكَانَ يُقَالُ لَهُ: مُهَاجِرُ أُمِّ قَيْسٍ. وَرَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ مِنْ طَرِيقٍ أُخْرَى عَنِ الْأَعْمَشِ بِلَفْظِ: كَانَ فِينَا رَجُلٌ خَطَبَ امْرَأَةً يُقَالُ لَهَا أُمُّ قَيْسٍ، فَأَبَتْ أَنْ تَتَزَوَّجَهُ حَتَّى يُهَاجِرَ، فَهَاجَرَ فَتَزَوَّجَهَا، فَكُنَّا نُسَمِّيهِ مُهَاجِرَ أُمِّ قَيْسٍ. وَهَذَا إِسْنَادٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ، لَكِنْ لَيْسَ فِيهِ أَنَّ حَدِيثَ الْأَعْمَالِ سِيقَ بِسَبَبِ ذَلِكَ، وَلَمْ أَرَ فِي شَيْءٍ مِنَ الطُّرُقِ مَا يَقْتَضِي التَّصْرِيحَ بِذَلِكَ» اهـ. قُلْتُ: وَقَدْ شَرَحَ هَذَا الْحَدِيثَ الْحَافِظُ الْعَلَّامَةُ ابْنُ رَجَبٍ الْحَنْبَلِيُّ فِي كِتَابِهِ الْقَيِّمِ «جَامِعِ الْعُلُومِ وَالْحِكَمِ»، وَكَذَلِكِ لِشَيْخِ الْإِسْلَامِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ رِسَالَةٌ مُسْتَقِلَّةٌ فِي شَرْحِهِ وَهِيَ مَطْبُوعَةٌ.

إنما الأعمال بالنية، وإنما لامرئ ما نوى، فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها أو امرأة يتزوجها فهجرته إلى ما هاجر إليه
<< Prev
Daftar Isi | Beranda | |
Next >>