Biografi Imam an-Nawawi

40 Hadits oleh Imam an-Nawawi

Biografi Imam an-Nawawi

الأربعون النووية

ترجمة الإمام النووي

An-Nawawī, al-Imām al-Ḥāfiẓ al-Auḥad (yang tiada duanya), al-Qudwah (teladan), Syaikhul-Islām, ‘Alamul-Auliyā’ (panji para wali), Muḥyiddīn Abū Zakariyyā Yaḥyā bin Syaraf bin Murrī al-Ḥizāmī al-Ḥaurānī asy-Syāfi‘ī, penulis karya-karya yang bermanfaat: 

Lahirnya pada bulan Muharram tahun 631 H, dan beliau tiba di Damaskus pada tahun 649 H lalu tinggal di ar-Rawāḥiyyah dengan memakan roti madrasah. Beliau menghafal at-Tanbīh dalam waktu empat setengah bulan, dan membaca (menyetorkan) seperempat al-Muhadzdzab secara hafalan pada sisa tahun tersebut kepada gurunya, al-Kamāl Isḥāq bin Aḥmad. Kemudian beliau menunaikan ibadah haji bersama ayahnya dan menetap di Kota Nabi (Madinah) selama satu setengah bulan, serta jatuh sakit di sebagian besar perjalanan. 

Maka guru kami Abū al-Ḥasan bin al-‘Aṭṭār menyebutkan bahwa Syaikh Muḥyiddīn menceritakan kepadanya bahwa beliau membaca (mempelajari) dua belas pelajaran setiap hari kepada guru-gurunya, baik penjelasan maupun koreksi: dua pelajaran dalam al-Wasīṭ, satu pelajaran dalam al-Muhadzdzab, satu pelajaran dalam al-Jam‘u bainash-Shaḥīḥain, satu pelajaran dalam Shaḥīḥ Muslim, satu pelajaran dalam al-Luma‘ karya Ibn Jinnī, satu pelajaran dalam Iṣhlāḥul-Manṭiq, satu pelajaran dalam at-Taṣhrīf, satu pelajaran dalam Ushūl al-Fiqh, satu pelajaran dalam Asmā’ur-Rijāl, dan satu pelajaran dalam Ushūl ad-Dīn. Beliau berkata: "Aku mencatat semua hal yang berkaitan dengannya, berupa penjelasan masalah yang rumit, kejelasan ungkapan, serta ketepatan bahasa. Allah Ta‘ālā pun memberkahi waktuku. Pernah terlintas di benakku untuk sibuk mempelajari ilmu kedokteran dan aku membeli Kitāb al-Qānūn, lalu hatiku menjadi gelap dan selama beberapa hari aku tidak mampu menyibukkan diri (belajar). Maka aku menyadari diriku, lalu aku menjual al-Qānūn tersebut, sehingga hatiku menjadi terang kembali." 

Aku berkata: Beliau mendengar (menuntut ilmu/berguru) dari ar-Riḍā bin al-Burhān, Syaikhusy-Syuyūkh ‘Abdul-‘Azīz bin Muḥammad al-Anṣhārī, Zainuddīn bin ‘Abdul-Dā’im, ‘Imāduddīn ‘Abdul-Karīm bin al-Ḥarastānī, Zainuddīn Khālid bin Yūsuf, Taqiyyuddīn bin Abī al-Yusr, Jamāluddīn bin ash-Ṣhairafī, Syamsuddīn bin Abī ‘Umar, dan tingkatan mereka. Beliau mendengar al-Kutub as-Sittah (enam kitab hadits utama), al-Musnad, al-Muwaṭṭa’, Syarḥus-Sunnah karya al-Baghawī, Sunan ad-Dāraquṭnī, serta banyak hal lainnya. Beliau membaca al-Kamāl karya al-Ḥāfiẓ ‘Abdul-Ghanī di hadapan az-Zain Khālid, dan mempelajari penjelasan hadits-hadits ash-Shaḥīḥain kepada al-Muḥaddits Abū Isḥāq Ibrāhīm bin ‘Īsā al-Murādī, mengambil ilmu ushul dari al-Qāḍī at-Tiflīsī, serta memperdalam fiqih pada al-Kamāl Isḥāq al-Maghribī, Syamsuddīn ‘Abdur-Raḥmān bin Nūḥ, ‘Izzuddīn ‘Umar bin Sa‘d al-Irbilī, dan al-Kamāl Salār al-Irbilī. 

Beliau mempelajari ilmu nahwu kepada Syaikh Aḥmad al-Miṣhrī dan selainnya, serta membaca sebuah kitab karya Ibn Mālik di hadapan penyusunnya sendiri. Beliau melazimkan diri dalam menyibukkan diri dengan ilmu, menyusun karya, menyebarkan ilmu, beribadah, membaca wirid, puasa, dzikir, serta bersabar atas kehidupan yang bersahaja dalam makanan dan pakaian dengan kelaziman yang amat penuh tanpa ada tandingannya. Pakaian beliau berupa kain kasar dan sorbannya syabakhtāniyyah kecil. 

Banyak ulama lulus di bawah bimbingan beliau, di antaranya al-Khāṭib Ṣhadruddīn Sulaimān al-Ja‘farī, Syihābuddīn Aḥmad bin Ja‘wān, Syihābuddīn al-Arbadī, dan ‘Alā’uddīn bin al-‘Aṭṭār, serta meriwatkan hadits dari beliau Ibn Abī al-Fatḥ, al-Mizzī, dan Ibn al-‘Aṭṭār. 

Telah mengabarkan kepada kami ‘Alī bin Ibrāhīm: Telah menceritakan kepada kami Yaḥyā bin Syaraf al-Faqīh: Telah mengabarkan kepada kami Khālid bin Yūsuf (ḥā’)—dan Sittul-‘Arab binti Yaḥyā memberi ijazah kepadaku—keduanya berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abū al-Yaman al-Kindī: Telah mengabarkan kepada kami al-Mubārak bin al-Ḥusain: Telah mengabarkan kepada kami ‘Alī bin Aḥmad: Telah mengabarkan kepada kami Muḥammad bin ‘Abdur-Raḥmān: Telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullāh: Telah menceritakan kepada kami Syaibān: Telah menceritakan kepada kami Ḥammād bin Salamah, dari Tsābit, dari Anas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa memohon mati syahid secara jujur dari dalam hatinya, niscaya ia akan diberikannya walaupun hal itu tidak menimpanya." Diriwayatkan oleh Muslim dari Syaibān. 

Ibn al-‘Aṭṭār berkata: Guru kami—raḥimahullāhu Ta‘ālā—menceritakan kepadaku bahwa beliau tidak membuang waktunya sedikit pun, baik di malam maupun siang hari, melainkan dalam menyibukkan diri (dengan ilmu), bahkan saat berada di jalanan. Beliau terus-menerus dalam keadaan demikian selama enam tahun, kemudian mulai menyusun karya, memberi manfaat, menyampaikan nasihat, dan menyuarakan kebenaran. Aku berkata: Di samping kesungguhannya dalam bermujahadah menundukkan diri, mengamalkan detail-detail sifat wara‘ dan muraqabah, menyucikan jiwa dari noda-noda, serta menghapuskan dari keinginan-keinginan pribadinya, beliau adalah seorang ḥāfiẓ hadits beserta ilmu-ilmunya, para perawinya, shahih dan ‘illat-nya, serta menjadi tokoh utama dalam memahami mazhab. 

Guru kami ar-Rasyīd bin al-Mu‘allim berkata: Aku pernah mencela Syaikh Muḥyiddīn karena tidak pernah masuk ke tempat pemandian umum (ḥammām) dan karena menyempitkan jalan hidup dalam makanan, pakaian, dan keadaannya. Aku memperingatkannya dari penyakit yang dapat menghalanginya dari menyibukkan diri (belajar). Maka beliau menjawab: "Sesungguhnya si Fulan berpuasa dan beribadah kepada Allah hingga kulitnya menjadi hijau." Beliau juga melarang makan buah-buahan dan mentimun seraya berkata: "Aku takut hal itu melembabkan tubuhku dan mendatangkan rasa kantuk." Beliau hanya makan sekali dan minum sekali dalam sehari semalam pada waktu sahur. 

Ibn al-‘Aṭṭār berkata: Aku pernah membicarakan kepadanya masalah buah-buahan, lalu beliau berkata: "Damaskus itu banyak memiliki harta wakaf dan kepemilikan orang-orang yang berada di bawah pengampuan (maḥjūr ‘alaih), sedangkan pengelolaan untuk mereka tidak boleh dilakukan kecuali dengan cara yang paling menguntungkan bagi mereka. Kemudian akad pengelolaannya dengan cara musāqāh dan di dalamnya terdapat perbedaan pendapat ulama; lalu bagaimana jiwaku bisa merasa tenang memakan hal itu?" 

Ibn al-‘Aṭṭār telah mengumpulkan biografi beliau dalam enam jilid kecil (kurrāsah). Di antara karya-karya beliau adalah Syarḥ Shaḥīḥ Muslim, Riyāḍh ash-Shāliḥīn, al-Adzkār, al-Arba‘īn, al-Irsyād dalam ilmu hadits, at-Taqrīb yang merupakan ringkasannya, Kitāb al-Mubhamāt, Taḥrīr al-Alfāẓ untuk at-Tanbīh, al-‘Umdah fī Tashḥīḥ at-Tanbīh, al-Īḍhāḥ dalam manasik sebanyak satu jilid—dan beliau memiliki tiga kitab manasik selain itu—at-Tibyān fī Ādāb Ḥamalatil-Qur’ān, fatwa-fatwanya yang dikumpulkan dalam satu jilid kecil, ar-Rauḍhah sebanyak empat jilid besar, Syarḥ al-Muhadzdzab (yaitu al-Majmū‘) sampai bab al-Muṣharrāh dalam empat jilid besar, syarah sebagian dari al-Bukhārī, sebagian dari al-Wasīṭ, menyusun sebagian dari kitab al-Aḥkām, sejumlah besar pembahasan nama-nama perawi dan bahasa, buram (musawwadah) dalam Ṭabaqāt al-Fuqahā’, serta kitab at-Taḥqīq dalam fiqih sampai bab Ṣhalāt al-Musāfir

Beliau tidak pernah menerima pemberian dari siapa pun kecuali sangat jarang dari orang yang tidak belajar kepadanya. Seorang fakir pernah menghadiahkan sebuah kendi kepada beliau, lalu beliau menerimanya. Syaikh Burhānuddīn al-Iskandarānī pernah mengundangnya untuk berbuka puasa di rumahnya, namun beliau berkata: "Bawalah makanan itu ke sini dan kita berbuka puasa bersama." Lalu beliau memakan makanan itu yang terdiri dari dua jenis lauk. Terkadang Syaikh pada beberapa waktu menggabungkan dua lauk. 

Beliau juga berani menghadapi para raja dan penguasa zalim dengan sikap ingkar (koreksi keras), serta bersurat kepada mereka dan menakut-nakuti mereka dengan Allah Ta‘ālā. Beliau pernah menulis surat: "Dari hamba Allah, Yaḥyā an-Nawawī. Semoga keselamatan dari Allah, rahmat-Nya, serta keberkahan-Nya tercurah kepada al-Maulā al-Muḥsin (Tuan yang berbuat baik), Raja para Amir, Badruddīn. Semoga Allah melanggengkan kebaikan untuknya, melindunginya dengan kebajikan-kebajikan, menyampaikan semua harapannya dari kebaikan dunia dan akhirat, serta memberkahi seluruh keadaannya, amin. Disampaikan kepada al-‘Ulūm asy-Syarīfah (penguasa yang mulia) bahwasanya penduduk Syam berada dalam kesempitan dan kelemahan keadaan akibat kurangnya curah hujan..." Beliau menyebutkan pasal yang panjang, dan di sela-sela itu ada lembaran surat kepada Raja azh-Zhāhir, namun raja membalasnya dengan jawaban yang keras dan menyakitkan, sehingga menyusahkan hati rombongan/jamaah. 

Beliau memiliki lebih dari satu surat kepada Raja azh-Zhāhir dalam hal amar makruf. Guru kami Ibn Faraḥ pernah mengaji syarah hadits kepada Syaikh (an-Nawawī) lalu ia berkata: "Kedudukan Syaikh Muḥyiddīn telah mencapai tiga tingkatan, yang seandainya masing-masing tingkatan tersebut dimiliki oleh seseorang tersendiri, niscaya orang-orang akan melakukan perjalanan jauh kepadanya (untuk menuntut ilmu darinya): ilmu, zuhud, serta amar makruf nahi munkar." 

Syaikh pernah bepergian lalu mengunjungi Baitul-Maqdis, kemudian kembali ke Nawā dan jatuh sakit di tempat ayahnya. Ajal pun mendatangi beliau, lalu beliau berpindah ke rahmat Allah pada tanggal 24 Rajab tahun 676 H dan kuburnya tampak jelas serta diziarahi. Syaikh Quṭbuddīn al-Yūnīnī mencatat tanggal wafatnya dan berkata: "Beliau adalah orang yang tiada tandingannya pada zamannya dalam ilmu, wara‘, ibadah, menyedikitkan kesenangan dunia, serta bersahajanya kehidupan. Beliau pernah menghadapi Raja azh-Zhāhir di Dār al-‘Adl (Gedung Keadilan) lebih dari sekali, hingga diriwayatkan dari Raja azh-Zhāhir bahwasanya ia berkata: 'Aku merasa takut kepadanya.'" 

Beliau menjabat kepemimpinan (maysyakhah) Dār al-Ḥadīts. Aku berkata: Beliau menjabatnya pada tahun 665 H setelah Abū Syāmah hingga beliau wafat. 

Syaikh Syamsuddīn bin al-Fakhr al-Ḥanbalī berkata: "Beliau adalah seorang imam yang mahir, ḥāfiẓ, sangat menguasai banyak ilmu, dan menyusun karya-karya yang sangat banyak. Beliau sangat wara‘ dan zuhud, meninggalkan seluruh keinginan makanan kecuali apa yang dibawakan oleh ayahnya berupa kue kering (ka‘k) dan buah tin. Beliau mengenakan pakaian kumal yang ditambal-tambal, tidak pernah masuk ke pemandian umum (ḥammām), meninggalkan seluruh buah-buahan, dan tidak pernah mengambil satu dirham pun dari gaji/alokasi jabatan, raḥimahullāhu Ta‘ālā." 

Pada tahun tersebut wafat pula Syaikh para ahli qiraah Kamāluddīn Abū Isḥāq Ibrāhīm bin Aḥmad bin Ismā‘īl bin Ibrāhīm bin Fāris at-Taimī al-Iskandarānī ad-Dimasyqī pada usia delapan puluh tahun; al-Imām al-Musnid Zakiyyuddīn Zakī bin Ḥasan bin ‘Umar al-Bailaqānī yang menjadi pembicara di Yaman; Syaikh para imam ahli qiraah Majduddīn ‘Abduṣh-Ṣhamad bin Aḥmad bin Abī al-Jaiysu al-Baghdādī al-Ḥanbalī; penceramah yang mahir Najmuddīn ‘Alī bin ‘Alī bin Asfandiyār bin Muwaffaqiddīn al-Baghdādī di Damaskus pada usia enam puluh tahun; serta Syaikh Syamsuddīn Qāḍī al-Quḍhāh Abū Bakr Muḥammad bin al-‘Imād bin Ibrāhīm bin ‘Abdul-Wāḥid al-Maqdisī al-Ḥanbalī di Mesir pada usia tujuh puluh empat tahun, raḥmatullāhi ‘alaihim.

📗Kitab Tadzkiratul-Ḥuffāẓ oleh Imam Adz-Dzahabī, Jilid 4 halaman 174-176.

النواوي الإمام الحافظ الأوحد القدوة شيخ الإسلام علم الأولياء, محيي الدين أبو زكريا يحيى بن شرف بن مري الحزامي الحوراني الشافعي, صاحب التصانيف النافعة: مولده في المحرم سنة إحدى وثلاثين وستمائة وقدم دمشق سنة تسع وأربعين فسكن في الرواحية يتناول خبز المدرسة، فحفظ التنبيه في أربعة أشهر ونصف وقرأ ربع المهذب حفظًا في باقي السنة على شيخه الكمال إسحاق بن أحمد ثم حج مع أبيه وأقام بالمدينة النبوية شهرًا ونصفًا ومرض أكثر الطريق, فذكر شيخنا أبو الحسن بن العطار أن الشيخ محيي الدين ذكر له أنه كان يقرأ كل يوم اثني عشر درسًا على مشايخه شرحًا وتصحيحًا؛ درسين في الوسيط، ودرسًا في المهذب، ودرسًا في الجمع بين الصحيحين، ودرسًا في صحيح مسلم، ودرسًا في اللمع لابن جني، ودرسًا في إصلاح المنطق، ودرسًا في التصريف، ودرسًا في أصول الفقه، ودرسًا في أسماء الرجال، ودرسًا في أصول الدين؛ قال: وكنت أعلق جميع ما يتعلق بها من شرح مشكل ووضوح عبارة وضبط لغة وبارك الله تعالى في وقتي، وخطر لي أن أشتغل في الطب واشتريت "كتاب القانون" فأظلم قلبي وبقيت أيامًا لا أقدر على الاشتغال فأفقت على نفسي وبعت القانون فأنار قلبي.

قلت: سمع من الرضى بن البرهان وشيخ الشيوخ عبد العزيز بن محمد الأنصاري وزين الدين بن عبد الدائم وعماد الدين عبد الكريم بن الحرستاني وزين الدين خالد بن يوسف وتقي الدين بن أبي اليسر وجمال الدين بن الصيرفي وشمس الدين بن أبي عمر وطبقتهم، وسمع الكتب الستة والمسند والموطأ وشرح السنة للبغوي وسنن الدارقطني وأشياء كثيرة وقرأ الكمال للحافظ عبد الغني على الزين خالد, وشرح في أحاديث الصحيحين على المحدث أبي إسحاق إبراهيم بن عيسى المرادي وأخذ الأصول على القاضي التفليسي وتفقه على الكمال إسحاق المغربي وشمس الدين عبد الرحمن بن نوح وعز الدين عمر بن سعد الإربلي والكمال سلار الإربلي.

وقرأ النحو على الشيخ أحمد المصري وغيره وقرأ على ابن مالك كتابًا من تصنيفه ولازم الاشتغال والتصنيف ونشر العلم والعبادة والأوراد والصيام والذكر والصبر على العيش الخشن في المأكل والملبس ملازمة كلية لا مزيد عليها ملبسه ثوب خام وعمامته شبختانية صغيرة، تخرج به جماعة من العلما منهم الخطيب صدر الدين سليمان الجعفري وشهاب الدين أحمد بن جعوان وشهاب الدين الأربدي وعلاء الدين بن العطار، وحدث عنه ابن أبي الفتح والمزي وابن العطار.

أخبرنا علي بن إبراهيم ثنا يحيى بن شرف الفقيه أنا خالد بن يوسف "ح" وأجازت لي ست العرب بنت يحيى قالا: أنا أبو اليمن الكندي أنا المبارك بن الحسين أنا علي بن أحمد أنا محمد بن عبد الرحمن أنا عبد الله ثنا شيبان ثنا حماد بن سلمة عن ثابت عن أنس قال: قال رسول الله, صلى الله عليه وآله وسلم: "من طلب الشهادة صادقًا من قلبه, أعطيها ولو لم تصبه". أخرجه مسلم عن شيبان.

قال ابن العطار: ذكر لي شيخنا -رحمه الله تعالى- أنه كان لا يضيع له وقتًا لا في ليل ولا في نهار إلا في اشتغال حتى في الطرق, وأنه دام على هذا ست سنين ثم أخذ في التصنيف والإفادة والنصيحة وقول الحق. قلت: مع ما هو عليه من المجاهدة بنفسه والعمل بدقائق الورع والمراقبة وتصفية النفس من الشوائب ومحقها من أغراضها كان حافظًا للحديث وفنونه ورجاله وصحيحه وعليله رأسًا في معرفة المذهب.

قال شيخنا الرشيد بن المعلم: عذلت الشيخ محيي الدين في عدم دخوله الحمام وتضييق العيش في مأكله وملبسه وأحواله، وخوفته من مرض يعطله عن الاشتغال فقال: إن فلانًا صام وعبَد الله حتى اخضر جلده وكان يمنع من أكل الفواكه والخيار ويقول: أخاف أن يرطب جسمي ويجلب النوم، وكان يأكل في اليوم والليلة أكلة ويشرب شربة واحدة عند السحر.

قال ابن العطار: كلمته في الفاكهة فقال: دمشق كثيرة الأوقاف وأملاك من تحت الحجر والتصرف لهم لا يجوز إلا على وجه الغبطة لهم، ثم المعاملة فيها على وجه المساقاة وفيها خلاف فكيف تطيب نفسي بأكل ذلك؟ وقد جمع ابن العطار سيرته في ست كراريس. فمن تصانيفه "شرح صحيح مسلم" و"رياض الصالحين" و"الأذكار" و"الأربعين" و"الإرشاد" في علوم الحديث و"التقريب" مختصرة و"كتاب المبهمات" و"تحرير الألفاظ" للتنبيه و"العمدة في تصحيح التنبيه" و"الإيضاح" في المناسك مجلد، وله ثلاثة مناسك سواه و"التبيان" في آداب حملة القرآن، وفتاواه مجموعة في مجيليد و"الروضة" أربعة أسفار و"شرح المهذب" إلى باب المصراة في أربع مجلدات وشرح قطعة من البخاري وقطعة من الوسيط, وعمل قطعة من الأحكام, وجملة كثيرة من الأسماء واللغات، ومسودة في طبقات الفقهاء، ومن التحقيق في الفقه إلى باب صلاة المسافر.

وكان لا يقبل من أحد شيئًا إلا في النادر ممن لا يشتغل عليه, أهدى له فقير إبريقًا فقبله، وعزم عليه الشيخ برهان الدين الإسكندراني أن يفطر عنده فقال: أحضر الطعام إلى هنا ونفطر جملة فأكل من ذلك وكان لونين، وربما جمع الشيخ بعض الأوقات بين إدامين، وكان يواجه الملوك والظلمة بالإنكار ويكتب إليهم ويخوفهم بالله تعالى، كتب مرة: من عبد الله يحيى النواوي سلام الله ورحمته وبركاته على المولى المحسن ملك الأمراء بدر الدين, أدام الله له الخيرات وتولاه بالحسنات وبلغه من خيرات الدنيا والآخرة كل آماله وبارك له في جميع أحواله آمين، وينهى إلى العلوم الشريفة من أهل الشام في ضيق وضعف حال بسبب قلة الأمطار, وذكر فصلا طويلا وفي طي ذلك ورقة إلى الملك الظاهر فرد جوابها ردًّا عنيفًا مؤلمًا فتنكدت خواطر الجماعة.

وله غير رسالة إلى الملك الظاهر في الأمر بالمعروف، وكان شيخنا ابن فرح يشرح على الشيخ في الحديث فقال: نوبة الشيخ محيي الدين قد صار إلى ثلاث مراتب, كل مرتبة لو كانت لشخص لشدت إليه الرحال، العلم والزهد والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر. سافر الشيخ فزار بيت المقدس وعاد إلى نوى فمرض عند والده فحضرته المنية فانتقل إلى رحمة الله في الرابع والعشرين من رجب سنة ست وسبعين وستمائة وقبره ظاهر يزار. أرخه الشيخ قطب الدين اليونيني وقال: كان أوحد زمانه في العلم والورع والعبادة والتقلل وخشونة العيش واقف الملك الظاهر بدار العدل غير مرة فحكي عن الملك الظاهر أنه قال: أنا أفزع منه. ولي مشيخة دار الحديث قلت: وليها سنة خمس وستين بعد أبي شامة إلى أن مات. وقال الشيخ شمس الدين بن الفخر الحنبلي: كان إمامًا بارعًا حافظًا متقنًا علومًا جمة، وصنف التصانيف الجمة وكان شديد الورع والزهد تاركًا لجميع الرغائب من المأكول إلا ما يأتيه به أبوه من كعك وتين، وكان يلبس الثياب الرثة المرقعة ولا يدخل الحمام وترك الفواكه جميعها ولم يتناول من الجهات درهمًا، رحمه الله تعالى.

وفيها توفي شيخ القرّاء كمال الدين أبو إسحاق إبراهيم بن أحمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن فارس التيمي الإسكندراني الدمشقي عن ثمانين سنة، والإمام المسند زكي الدين زكي بن حسن بن عمر البيلقاني المتكلم باليمن، وشيخ الأئمة المقرئ مجد الدين عبد الصمد بن أحمد بن أبي الجيش البغدادي الحنبلي، والواعظ البارع نجم الدين علي بن علي بن أسفنديار بن موفق الدين البغدادي بدمشق عاش ستين سنة، والشيخ شمس الدين قاضي القضاة أبو بكر محمد بن العماد بن إبراهيم بن عبد الواحد المقدسي الحنبلي بمصر عن أربع وسبعين سنة، رحمة الله عليهم.

📗كتاب تذكرة الحفاظ للذهبي :٤ / ٤٧١-٦٧١

Share | Copy